budidaya ikan

Banyak di daerah Indonesia bagian timur seperti di Nusa Tenggara Timur, memiliki dua musim yaitu musim hujan/musim basah yang efektifnya sekitar 4 bulan dimulai dari akhir bulan November sampai akhir bulan Maret dan selebihnya adalah musim kemarau/musim kering sekitar 8 bulan. Untuk memanfaatkan ketersediaan air yang banyak pada musim hujan tersebut, salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para pelaku utama maupun pelaku usaha adalah Memlihara Ikan di Kolam Sistem Tadah Hujan karena pada saat itu volume air yang dibutuhkan untuk memlihara ikan sangat mencukupi. Jenis dan ukuran ikan yang dipilih harus memperhitungkan waktu pemeliharaan yang hanya 4 bulan sudah di panen.

Jenis-jenis ikan yang dapat dipelihara pada Kolam Tadah Hujan adalah, Gurami, Lele, Gabus, Tambakan, Sepat dan lain-lain sesuai keadaan yang ada di setiap daerah.
Konstruksi kolam tadah hujan harus berorientasi pada usaha penghambatan air, karena sumber utama air adalah curah hujan. Untuk ,menghindari terjadinya rembesan dan kehilangan air yang banyak, jenis tanah yang dipilih saat membuat kolam adalah tanah liat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat konstruksi kolam antar lain; kemudahan operasional, kemungkinan kekeringan, tiupan angin, penurunan mutu air. Atas dasar beberapa pertimbangan di atas maka luas kolam tadah hujan dianjurkan antara 3 m x 3 m sampai 10 m x 10 m dengan ukuran optimal 5 m x 5 m.
Bagi pelaku utama dan pelaku usaha yang ingin membuat kolam tadah hujan lebih dari satu sebaiknya dibuat pada satu hamparan. Karena letak kolam yang berdampingan satu sama lain maka kondisi tanah diharapkan selalu basah atau jenuh air sehingga perembesan melalui dasar ataupun dinding kolam dapat dikurangi.

Kedalam kolam terdiri atas keda;laman air dan ruang kosong di atas permukaan air hingga bibir kolam. Kedalaman air menyangkut volume air yang berfungsi sebagai media hidup ikan, sedangkan ruang kosong di atasnya berfungsi mencegah ikan melompat keluar serta mencegah air dan sampah dari luas masuk.
Air sebagai sarana produksi khususnya dikolam tadah hujan memiliki batas daya dukung, Daya dukung air dipengaruhi oleh kesuburan, bahan toksit, kandungan oksigen terlarut. dan lain-lain. Tingkat kesuburan air kolam dipengaruhi oleh kandungan zat hara yang memungkinkan organism air berkembang yang selanjutnya menjadi pakan ikan. Untuk suhu air dengan volume kolam yang ideal umumnya cukup stabil.

Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut di atas, volume air kolam tadah hujan diusahakan sebanyak mungkin. Oleh karena luas kolam tadah hujan dibatasi oleh beberapa factor maka factor kedalaman kolam mejadi hal yang sangat penting diperhatikan. Kedalam kolam air tadah hujan dianjurkan 1 – 1,5 m ditambah ketinggian bibir kolam 50 cm sehingga kedalaman kolam menjadi 1,75 – 2,00 m. Pintu atau lubang pengeluaran untuk membuang kelebihan air pada saat hujan dibuat di dinding kolam pada batas maksimum ketinggian air.

Bagi kolam-kolam yang jenis tanahnya di luar tanah liat, perlu dilakukan pemadatan dengan tanah liat untuk menghindari kehilangan air atau perembesan dan kalau memungkinkan kolam dijemur selama 3 – 5 hari sebelum diairi.
Setelah kolam air tadah hujan benar-benar telah siap, pemasukan air yang sumbernya dari hujan dapat dimasukkan dengan membuat saringan air pada pintu masuk kolam untuk menghindari masuknya bahan-bahan lain yang tidak dibutuhkan. Hal ini perlu pengontrolan yang intensif. Setelah air pada kolam tadah hujan sudah sesuai yang diharapkan, biarkan selama 2 – 3 hari baru benih ditebarkan, dengan syarat berat benih minimal 25 – 30 gram. Sebelum ditebar benih harus diaklimatisasi terlebih dahulu untuk penyesuaian suhu dan kondisi lain disekitas kolam. Padat penebaran benih yang berukuran 25 – 30 gram/ekor adalah 20 ekor/m2.

Jenis pakan yang dapat diberikan disesuaikan dengan jenis ikan yang dipelihara. Untuk Gurami, Mujair, Tambakan maupun Lele dapat diberikan pakan yang terbuat dari dedak jagung, dedak kedelai, tepung ikan, dedaunan maupun sisa-sisa makanan serta ikan rucah untuk lele ataupun gabus. Jumlah pakan harian yang diberikan sesuai dengan bobot tubuh ikan yaitu 1,5 – 2,5 % bobot ikan. Semakin besar bobot ikan makan akan semakin kecil prosentasi pemberian pakan harian. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan menebar untuk jenis pellet; atau mengikat pakan dalam sebuah kantong berpori kemudian direndam dalam kolam. Waktu pemberian pakan dilakukan sesaat setelah matahari terbit dan matahari menjelang terbenam dengan dosis yang cukup banyak, Sedangkan pada siang hari hanya sebagai pakan penyelang saja sehingga dosisnya sedikit.

Panen ikan dapat dilakukan secara selektif atau panen total tergantung kebutuhan dan permintaan pasar. Kalau semua parameter air mendukung dengan pemberian pakan yang baik, maka pada umur 4 – 5 bulan pemeliharaan, bobot ikan dapat mencapai ukuran konsumsi. Panen total dilakukan dengan cara pengeringan kolam sampai air di kolam tersisa dengan ketinggian 10 – 20 cm selanjutnya ikan-ikan ditangkap. Penen dengan tidak mengurangi air dengan cara mempersempit gerakan ikan dengan menggunakan hampang/krey yang ditarik/digeser perlahan-lahan dalam kolam dari satu sisi ke sisi yang lain sehingga kumpulan ikan terkumpul pada suatu tempat yang sempit, kemudian di panen menggunakan alat panen seperti tangguk dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan saat melakukan pemanenan harus menjaga fisik ikan agar tetap utuh, karena penampilan ikan saat dipasarkan sangat menentukan.
Prospek pemeliharaan ikan system kolam tadah hujan perlu dikembangkan didaerah-daerah yang memiliki musim kemarau panjang untuk memanfaatkan datangnya musim hujan yang volume airnya cukup tinggi. Sumber : Memelihara Ikan di Kolam Tadah Hujan. Zulkifli Jangkaru. (Admin Flores Timur. Frans W. Simboh, S.Pi. 081339031363